Tampilkan postingan dengan label desa banjarharjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desa banjarharjo. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 November 2012
Desa Banjarharjo Kalibawang Kulon Progo DIY
Makam Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang adalah salah satu pahlawan nasional perempuan yang turut mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda pada masanya. Ia lahir pada tahun 1752 di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah. Nama aslinya adalah R.A. Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau adalah putri dari penguasa wilayah Serang yang pada waktu itu menjadi bagian dari kerajaan Mataram. Penguasa itu bernama Panembahan Notoprojo. Beliau adalah pendekar perempuan yang gigih memperjuangkan tanah air dari penjajahan. Masyarakat Serang memberikan sebuah julukan kehormatan bagi perempuan yang mewarisi sifat-sifat pendekar ini dengan nama Djayeng Sekar. Beliau pada waktu itu menjadi pemimpin Laskar Gula Kelapa untuk wilayah daerah timur-laut Jawa Tengah.
Hingga beliau berusia senja, Nyi Ageng Serang tak pernah surut dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Beliau memimpin pasukannya melakukan long march dari Serang kemudian bergerak ke barat lalu menuju ke selatan dengan menyusuri sungai Progo dan kemudian bermarkas di bukit Traju Mas pada masa Perang Diponegoro. Di bukit yang sekarang dikenal sebagai Perbukitan Menoreh inilah beliau bersama pasukannya pada waktu itu menyusun strategi peperangan. Peperangan itu pula yang mengantarkan beliau ke tempat di mana ia sekarang dimakamkan yakni bukit Traju Mas.
Nyi Ageng Serang wafat karena sakit pada tahun 1828 diusianya yang ke-76, tepatnya dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir. Berdasarkan pemintaan beliau sebelum wafat, beliau akhirnya dimakamkan di perbukitan Menoreh.
Kompleks makam Nyi Ageng Serang merupakan situs untuk mengenang perjuangan beliau dalam melawan penjajahan Belanda dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bukit Menoreh dan kompleks makam beliau inilah yang menjadi bukti sejarah bahwa kemampuan seorang perempuan setara dengan laki-laki, bahkan jauh sebelum gerakan feminisme muncul di Eropa.
Pada pintu masuk makam, para pengunjung akan melihat sebuah monumen yang menerangkan beliau sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Di bagian tengah kompleks makam ini terdapat dua bangunan berbentuk joglo. Makam Nyi Ageng Serang, putri, serta para abdi dalem menempati bangunan yang pertama. Sedangkan bangunan yang kedua dimakamkan suami beliau yaitu, R.M. Kusuma Wijaya, ibu, dan para keluarga beliau yang lain. Disamping keluarga dan para abdi dalem, di kompleks pemakaman terdapat makam beberapa prajurit yang telah berjuang bersama beliau.
Para pengunjung diharapkan melepas alas kaki ketika memasuki pintu kompleks makam. Larangan bagi para pengunjung di tempat ini adalah tidak boleh membawa senjata tajam dan tidak boleh membawa minuman yang dapat menyebabkan mabuk. Selain itu, harus tetap menjaga ketenangan dan tidak memancing keributan. Bagi perempuan yang sedang haid atau nifas tidak boleh masuk ke dalam makam.
Masyarakat sekitar makam ini secara rutin menggelar pementasan seni untuk memperingati kepahlawanan beliau. Pementasan kesenian Desa Banjarharjo biasanya digelar setiap bulan Sura (Muharram). Yang ditampilkan adalah kuda lumping, tarian dolalak, shalawatan, dan pementasan kesenian yang lain yang digelar oleh hampir semua seniman tradisional di masing-masing dusun di Banjarharjo. Disamping sebagai upaya untuk melestarikan budaya lokal, gelar kebudayaan lokal tersebut juga merupakan ekspresi beberapa seniman untuk mengenang beliau. Gelar budaya kesenian itu juga diselingi dengan pameran aneka buah-buahan, hasil pertanian, dan produk makanan yang dihasilkan oleh Desa Banjarharjo.
Makam Nyi Ageng Serang juga mempunyai daya tarik objek wisata tersendiri, selain memiliki nilai kepahlawanan dan sejarah yang tinggi. Makam ini dipercayai oleh beberapa orang menjadi tempat untuk mencari berkah (ngalap berkah) agar keinginan para peziarah terkabul. Ritual berziarah untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal bercambur baur dengan kepercayaan mistik beberapa masyarakat setempat maupun pendatang. Hal ini tampak dengan ramainya para peziarah pada hari-hari tertentu, khususnya pada Malam Selasa Kliwon dan Malam Jum’at Kliwon.
Di kompleks makam ini terdapat seorang juru kunci makam yang akan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para peziarah. Juru kunci juga akan siap memandu, bagi para peziarah yang mempunyai niat ngalap berkah dari makam tersebut. Biasanya juru kunci menyuruh pengunjung membawa bunga tujuh rupa, kemenyan, dan kadang-kadang disertai puasa beberapa hari selama berdoa sebagai wujud prihatin atau laku prihatin.
Wader Presto
KOMPAS.com - Siapa bilang ikan sungai kalah enak dibandingkan ikan laut? Di Desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, beragam jenis ikan sungai mampu diolah menjadi masakan lezat dan menggugah selera.
Nama masakan itu wader presto. Disebut demikian, karena ikan sungai yang dijuluki wader dalam bahasa Jawa itu memang dimasak khusus hingga durinya lunak, seperti menggunakan panci tekan (presto).
Puluhan tahun lalu, hidangan wader presto kondang di kalangan warga Banjarharjo. Namun, kini masakan rumahan itu sudah jarang dijumpai. Hanyalah Ny Sriwanto (80), satu-satunya pemasak wader presto di Banjarharjo, yang masih bertahan.
Sejak 30 tahun lalu, ia membuka warung makan wader presto di tepi Jalan Sentolo-Muntilan kilometer 25, tepat di samping Balai Desa Banjarharjo. Sampai sekarang, warung sederhana berdinding triplek dan gedhek (anyaman bambu) itu masih bertahan.
Saat ditemui akhir pekan lalu, nenek delapan cucu itu tidak pelit berbagi resep wader presto yang sudah diwariskan secara turun-temurun. "Tidak rahasia-rahasiaan. Lha wong , resepnya itu sederhana saja," ujarnya ramah.
Sriwanto mengatakan, memasak ikan wader gampang-gampang susah karena memiliki banyak duri. Daripada repot memisahkan duri dari daging, warga lebih suka melunakkan duri tersebut sehingga tidak menusuk langit-langit mulut saat dimakan.
Sebelum dimasak, ikan-ikan wader yang dibeli Rp 15.000 per kilogram dari nelayan sungai dibersihkan isi perutnya. Ikan lalu digoreng setengah matang agar tampilannya utuh dan dagingnya tak hancur saat diproses lebih lanjut. Setelah itu, ikan diberi bumbu ulekan bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, ketumbar, kunyit, dan garam, lalu direbus selama lebih kurang empat jam.
Untuk memperkaya rasa dan aroma, Sriwanto menambahkan rempah daun salam, lengkuas, dan serai, ke dalam air rebusan ikan. Agar ikan tidak terlalu lunak, memasaknya harus menggunakan kayu bakar dan apinya tidak besar.
"Aroma sangit kayu bakar juga menambah nikmat masakan," lanjut wanita yang tidak pernah lepas dari kebaya dan kain jarit itu.
Agar keaslian cita rasanya terjaga, Sriwanto hanya membeli wader dari sungai, bukan hasil budidaya. Menurutnya, daging ikan wader yang dipelihara di kolam terasa hambar dan kurang gurih.
Wader presto yang masih hangat kemudian disajikan di atas nasi putih yang mengepul. Tidak lupa, ia menambahkan sayur tahu serta tumis kacang panjang sebagai pelengkap.
Ditemani iringan musik alam berupa gemericik air saluran irigasi Kalibawang di depan warung, seluruh pengunjung warung Sriwanto terlihat lahap menyantap wader presto. Sesekali, mereka menyeruput teh hangat yang diberi gula batu, lalu bersendawa.
Murah meriah
Sumarno (40), mengaku sejak kecil menggilai masakan warung Sriwanto. Warga Desa Banjararum, Kalibawang itu mengatakan, wader presto semacam ini tidak ada yang menyamai. Lagipula, harga masakan ini amat murah. Satu porsi hanya Rp 6.000, sudah termasuk teh hangat. "Harga yang sebanding dengan kelezatannya," ujar karyawan swasta ini.
Warung Sriwanto juga menyediakan ikan wader goreng tepung yang dijual Rp 4.000 per bungkus. Ia juga menjual beragam lauk, seperti tahu goreng, tempe goreng, dan telur ceplok.
Saat akhir tahun seperti ini, pembeli kadang bisa melengkapi kepuasan makan dengan melahap durian Menoreh sebagai pencuci mulut. Setiap hari, warung yang mampu menampung 20-an pembeli itu buka dari pukul 08.00 hingga sore hari.
Wader presto biasanya ludes menjelang azan magrib, karena Sriwanto menjualnya secara terbatas, yakni hanya 10-15 kilogram per hari. Dari jumlah itu, Sriwanto meraup omzet hingga Rp 200.000 per hari. "Saya bisa saja menambah jumlah ikan wader, tapi saya tidak mau. Memasaknya itu lho yang bikin capek," katanya.
Tidak perlu malu bertanya jika tidak mengetahui letak warung Ny. Sriwanto, karena hampir semua warga Kulon Progo menggemari wader presto warung ini. Bahkan, para pejabat daerah selalu saja menyempatkan diri berkunjung untuk sekadar makan siang setelah melawat ke Kalibawang atau Samigaluh.
Sambil duduk menunggui warungnya, Sriwanto hanya berharap agar wader presto tidak punah dari bumi Menoreh Kulon Progo. Ia sudah mewariskan keahliannya mengolah ikan wader kepada anak-anaknya, tapi hasil masakan mereka belum bisa menyamai sang ibu.
Kendati tidak ada rahasia yang disimpan Sriwanto, kelezatan wader presto tetap misteri... (Yoga Putra)
LOMBA PKK-KB-KES, DESA BANJARHARJO DINILAI TIM PROVINSI DIY
Masih adanya masalah gizi dan kesehatan yang muncul akhir-akhir ini menyadarkan kita kembali untuk meningkatkan kualitas pemberdayaan masyarakat secara administrative maupun teknis.
Ketrampilan kader dan pemanfaatan data posyandu menjadi salah satu komponen penting dan menentukan kualitas pelayanan di posyandu.
Pemakaian dan pemanfaatan semua potensi di masyarakat seperti pemanfaatan pekarangan, pemeliharaan ternak dapat diarahkan untuk peningkatan kualitas gizi dan kesehtan keluarga.
Demikian dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi DIY, GKR Hemas dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dra.Anik Yudhastowo mewakili rombongan tim penilai, dalam acara Evaluasi Monitoring Kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kes Tingkat Propinsi DIY di Balai Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Selasa (13/12).
Acara dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kulonprogo dr.Hj.Dwikisworo Setyowireni,Sp.A(K), Staf ahli Bupati Bidang SDM dan kemasyarakatan Drs.Bisono Indro Cahyo, Camat Kalibawang Drs.Nur Wahyudi,MM, dan Kades Banjarharjo Suwarto.
“Upaya –upaya yang telah dilaksanakan keluarga miskin dengan memberikan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) Jaminan persalinan (Jampersal) pemberian obat dan alat kontrasepsi gratis kepada pra KS dan KS I agar keluarga tetap terpelihara kesehatannya,”ujarnya.
Menurutnya, melalui Kegiatan Kesatuan gerak PKK-KB-KES diharapkan dapat meningkatkan peran serta pria dalam rangka keadilan dan kesetaraan gender di masyarakat serta lebih memfokuskan pada kegiatan-kegiatan yang secara langsung dapat meringankan beban keluarga dalam mendapatkan pelayanan KB dan kesehatan sesuai prioritas yang ada dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.
Sementara Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Staf ahli Bupati Bidang SDM dan Kemasyarakatan Drs.Bisono Indro Cahyo mengatakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh seluruh jajaran PKK selama ini, secara nyata telah mampu memberikan sumbangan positif bagi peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Kulonprogo.
Kiprah PKK terbukti mampu menyentuh segala lapisan masyarakat. Secara umum PKK mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membangun dirinya, keluarganya dan lingkungannya.
“Bahkan dapat dikatakan, PKK dengan kegiatannya telah mampu memasuki segala aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, keluarga berencana, peningkatan pendapatan keluarga, kesejahteraan keluarga, sampai pada kelestarian lingkungan.
Hal ini membuktikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh PKK memiliki posisi dan fungsi yang sangat strategis sebagai agen pembaharuan dan pembangunan, seperti tercermin dari kiprahnya yang benar-benar mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat sampai dengan lapisan terbawah,”katanya.
Dengan kata lain PKK secara langsung berhadapan dengan masyarakat, sehingga dapat mengetahui segala permasalahan yang dihadapi, juga dapat memahami potensi-potensi yang ada, baik potensi ketrampilan masyarakat, maupun potensi sumber daya alam.
Demikian juga halnya dengan Keluarga Berencana (KB), bahwa kesadaran masyarakat untuk menggapai keluarga yang sejahtera secara lahir dan batin, telah meningkat, ini terbukti dengan kemandirian dari Pasangan Usia Subur (PUS) dalam keikutsertaan KB aktif. (mc)
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.